KabarIndonesia - Seorang lelaki bertanya kepada Nabi Saw, “Ya Rasulullah, siapa yang berhak memperoleh pelayanan yang terbaik dariku?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Lelaki itu bertanya lagi, “Siapa lagi?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Lelaki itu bertanya lagi, “Siapa lagi?” Nabi kembali menjawab, “Ibumu.” Masih juga si lelaki bertanya, “Siapa lagi?” Barulah Nabi saw menjawab, “Ayahmu”. Demikian, Rasulullah menggambarkan kemuliaan wanita yang menjalankan amanah kehidupannya sebagai seorang ibu. Bahkan, Rasulullah mengibaratkan surga berada dibawah telapak kaki ibu [H.R. Anas ra]. Artinya, seorang mukmin dapat meraih ridho Allah dan masuk surga dengan jalan meraih keridhoan ibunya serta memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
Kemuliaan seorang ibu tersebut, diantaranya karena sakit yang luar biasa ketika melahirkan janin yang telah dikandungnya selama 9 bulan 10 hari. Terbentang pintu kehidupan dan kematian dihadapan sang ibu. Namun, sesungguhnya dibalik pintu itu, terhampar samudera pahala bagi para mukminah. Jika di masa kini terdapat wanita yang terperdaya sehingga enggan untuk mempunyai keturunan, karena rasa risih saat hamil, sakit saat melahirkan, serta repot mengurus anak, semua itu karena dia tidak mempersiapkan diri dari awal menjadi seorang ibu.
Penulis buku What to Expect When You’re Expecting menggambarkan sebuah kronologi yang menarik. Pada tahun 1847 di Skotlandia, seorang wanita menjadi ibu pertama yang melahirkan dibawah pengaruh obat penghilang kesadaran. Ia dapat melahirkan, namun baru terbangun tiga hari kemudian. Menariknya, ia tidak percaya jika bayinya telah lahir walaupun dokter berusaha meyakinkannya berkali-kali. Seabad kemudian, mulailah tren dimana para wanita justru ingin tetap sadar selama persalinan dengan semua rasa tidak enaknya. Mereka ingin menikmati setiap perasaannya. Peristiwa ini memberikan hikmah bahwa secara fitrah, rasa kasih ibu akan mengalahkan segala pedih dan perih. Islam memandang, berbagai kesulitan dan kesengsaraan yang dihadapi seorang wanita saat hamil, melahirkan, menyusui, mengasuh anak, tidak akan sia-sia. Keyakinannya kokoh, bahwa sungai pahala akan mengalir padanya seperti kata Rasulullah, “Tidaklah salah seorang diantara kamu merasa ridho jika ia hamil dari hasil dengan suaminya dan merasa bangga dengan kehamilannya itu, kecuali baginya pahala yang sama dengan prajurit yang berpuasa saat berperang di jalan Allah.” [H.R. Ibnu Atsir]. Maka, tidak ada alasan untuk merasa rendah menjadi seorang wanita, karena kedudukan yang utama yang diberikan Islam kepada wanita mukminah. Tidak akan ada tuntutan kesetaraan dengan kaum lelaki jika seorang wanita paham akan posisi mulia yang diberikan Islam padanya.***
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com






